Untold Story di Manila: Kisah Ka Ebu Gobel

Selamat Jalan Pak Rahmat Gobel

Catatan:

M Dino.Gobel

KABAR duka alm Hi Rahmat Gobel menghentak banyak orang. Sekejap ingatan saya berkelana di sekian tahun lalu.

Sebanyak dua kali saya berkesempatan bertemu dan sharing, dengan Alm Rahmat Gobel.

Pertemuan pertama di sebuah hotel di metro Manila, ibukota Filipina, pada 2014 silam.

Saat itu  pak Rahmat menjalankan tugas negara sebagai menteri perdagangan mendampingi Presiden Joko Widodo.

Pak Jokowi memboyong sejumlah menteri kabinetnya dalam kunjungan negara di Filipina.

Pertemuan kami kebetulan. Tak disangka sangka. Saya nginqp di hotel yang sama dengan pak Rahmat.

Saya nginap  2 malam di hotel metro. karena saya diundang seorang sahabat warga Davao City di Filipina Selatan.

Saya trip ke Filipina hampir 2 minggu. Kota tujuan pertama ke General Santos dan Davao City. 2 kota besar di Mindanao Selatan.

Usai trip, sebelum balik ke Manado via Kota Manila, saya nginap di hotel yang ternyata ditempati Pak Jokowi dan Alm Pak Rahmat Gobel.

Kami bertemu di lobi hotel malam hari. Saat itu sudah hampir pukul 11 malam.  Lantaran Saya belum merasa ngantuk. Saya datangi lobi hotel untuk mendengar live musik dari bar hotel.

Saat bersamaan sejumlah menteri sedang duduk santai di deretan sofa. Mereka nampak santai. Semua kenalkan pakaian tak formil.

Tiba tiba datang alm Rahmat duduk di sofa kosong  Kurso kami berdua berdekatan. Pak Rahmat Gobel. Beliau humble. Sangat humble. Saat menyapa. Berinisiatif memulai percakapan. Tak ada kesan kaku lantaran sebagai Menteri.

Awalnya Pak Rahmat pikir saya orang Filipina. “Hahah sama sama orang holand. Holandalo..(gorontalo).” Tawa renyah dengan suara ngebas Beliau, sangat akrab.

Singkat cerita, kami berdua pun ngobrol. Beliau kaget saat tahu marga saya Gobel. Bahkan saat saya kisahkan ke Beliau kisah kedekatan Alm Papa saya dengan ayahanda Pak Rahmat, Alm Thayeb van Gobel. Pak Rahmat terlihat ragu. Bercanpur  penasaran.

Tapi dia sangat antusias. Minta saya ceritakan lebih. “Really untold story. Tak pernah saya tahu kisah ini,” kata Pak Rahmat.

Saya jawab ke Pak Rahmat bahwa kami kakak adik, sejak Papa meninggal dunia di 1988, memilih menyimpan kisah ini. Sebagai dokumen keluarga.

“Tak mau kami beber. Nanti malu dikira ada maunya.” Kata saya bergurau. Alm Pak Rahmat menepuk pundak saya. Tersenyum.

Saat itu saya kisahkan, mengutip cerita Alm Papa semasa hidupnya, ke kami anak anak. Oleh Papa, Alm ayah Pak Rahmat disapa Kak Ebu. Papa saya, nama aslinya Abdulgani Hasan van Gobel. Saya lupa persis waktunya, tapi papa kisahkan di antara tahun 1930-1940 an.

Papa saat itu bekerja dengan pemerintah Belanda di Buol Toli toli. Sulteng. Papa dipercayakan sebagai kepala keuangan di kantor pemerintahan kala itu. Saat sedang bekerja, seorang anak muda datang ingin ketemu Papa dan menyebutkan namanya “Ebu”. Thayeb van Gobel.

Beliau dalam perjalanan naik kapal laut Belanda menuju Batavia. Beliau dari Gorontalo. Karena keterbatasan ongkos, Pak Ebu hanya bisa sampai di pelabuhan Toli toli. Tak ada keluarga dan kenalan.

Kecuali yang beliau tahu ada marga Gobel. Pak Dulah Gobel. Papa saya. Mereka langsung dekat karena orangtua Om Ebu, juga keluarga dekat Papa. Sama sama berasal dari Tapa. Sekarang wilayah Kabupaten Bone Bolango.

Papa saya lahir dari garis keturunan Alm Raja Hasan van Gobel, salah satu Raja memimpin Kerajaan Bolango di Molibagu. Sekarang Bolsel Sulut.

Berita Terkait:  Persma 1960, Fondasi Profesional atau Panggung Simbolik Kekuasaan?

Tapi Papa dibesarkan dan bersekolah hingga MULO. Itu adalah Sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), berada di Gorontalo. Oleh Raja Hasan, Papa dikirim ke MULO di gorontalo. Papa dititip di kediaman keluarga di Tapa.

Asal muasal Keluarga Gobel, menurut sejarah, berasal dari Tapa. Lalu menyebar hingga tiba di Molibagu. Kala itu disebut Bolang Uki. Semasa smp, saya sempat stay hampir 3 bulan di Molibagu.

Ketepatan kisah perjalanan Leluhur Gobel lebih pas bisa dikisahkan adindaku Delfian Giputradewa Thanta “Eping”. Ponakanku, pejabat di Kab Bolsel ini, menguasai sejarah otentik.

MULO sendiri, pada zaman Hindia Belanda adalah sekolah lanjutan, setelah pendidikan dasar. secara fungsi dan jenjang memang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ini. Selama di gorontalo, papa lebih banyak di Tapa, asal keluarganya. Itu sebabnya Papa tak hanya fasih berbahasa Bolango, tapi juga Gorontalo.

Singkat kata, Papa saya yang lebih muda usia dari Pak Ebu langsung mengajak tinggal di rumah di Toli toli.  Saat itu papa masih bujang . Beberapa tahun stay dengan Papa, keahlian bidang elektronik Pak Ebu muda terlihat.

Terbukti sejumlah radio rusak milik pejabat Belanda kala itu, bisa diperbaiki. Normal kembali. Papa bahkan sempat marah. Karena radio merk Grundig milik Papa yg mahal kala itu, dibongkar Pak Ebu. Tapi, ternyata itu dimodif dan radio itu jadi lebih bagus, kata Papa.

Papa dan Pak Ebu pun berpisah. Sebab, Pak Ebu memilih merantau ke Batavia. Dimotivasi oleh Papa dan sejumlah pejabat Belanda kenalan dan atasan Papa waktu itu, yg sudah bersimpatik kepadanya, bertolaklah Pak Ebu ke batavia. Sekarang jakarta.

Tahun 1970 dan 1980 an. Papa sudah bertugas sebagai PNS di Pemkab Banggai. Menikah dengan Ibu saya, Almh Iesye Sorongan. Papa kaget saat radio RRI memutar berita bahwa telah berdiri perusahan elektronik bekerjasama Jepang bernama National Gobel. “Kok bisa marga Gobel dijadikan merk?”

Kata Papa. Beliau langsung hubungi sejumlah.keluarga di gorontalo dan jakarta melalui interlokal dari “telepon slenger” di rumah kami. Kami sebut slenger, hehehe, karena telepon rumah jaman dulu tak kayak sekaerang.

Ada pemutar di kanannya. Lalu langsung dihubungkan ke operator atau sentral. Oleh sentral, langsung dihubungkan ke nomor yang ingin kita tuju. Papa bercakap dengan kerabatnya lewat telepon. Soal nama Fam Gobel jadi merk.

Rasa penasaran Papa terjawab. Karena TV masih hitam putih kala itu, Papa kaget tapi bangga saat wajah owner National Gobel muncul.

Ternyata? “Kak Ebu pemilik perusahan itu. Pantas dia pakai nama Gobel. Kak Ebu hebat masya Allah ” kata Papa bangga. Papa lalu ceritakan bahwa sejak ktmu di toli toli, Om Ebu muda selalu punya kebanggaan dengan nama Fam Gobel.

Bahkan ada nazar, bak sumpah kata Papa, bahwa kelak sukses di Batavia, jakarta, Om Ebu ingin mendirikan perusahan menggunakan nama Gobel. kisah ini papa selalu cerita ke anak anak. “Alhamdulilah. Dia buktikan” papa selalu mengerjapkan matanya. Bangga dan haru tiap berkisah.

Kisah Pertemuannya dengan Pak Ebu. Dari 7 anak, saya salah satu yg dekat dgn Papa. Sejak saya usia Taman Kanak Kanak di Luwuk, Papa suka berkisah ke saya.masa lalu. Perjuangannya. Termasuk dgn Om Ebu. Kebanggaan Papa. Kebanggaan orang Gorontalo. Kebanggaan Indonesia, kata Papa.

Berita Terkait:  SHADOW OF "PARTAI COKLAT" DI PILKADA 2024

Papa memutuskan bertemu Pak Ebu di jakarta saat tugas rakor di jakarta Alhamdulilah bersua. Papa cerita kala itu, Pak Ebu kaget saat disapa Papa di kantornya di Jakarta, “masih ingat radio rusak di toli toli?”

Mereka berdua berpelukan. Melepas rindu sesama saudara. Papa balik Luwuk, bawa banyak hadiah. Saya ingat, saya dan kakak kakak dikasi jam tangan merk Gobel. Dan buku agenda kerja National Gobel.

Hubungan keduanya berlanjut. Bahkan pernah, Papa.kebetulan di Banggai juga menjabat Sekretaris Golkar. Papa panik. Ada apa? Tanya ibu saya. Ternyata, tersiar kabar, Pak Ebu pemilik National Gobel akan mampir berkampanye Pemilu kala itu untuk partai PPP di Luwuk.

Syukurlah, setelah obrolan by phone dengan bahasa Gorontalo, Pak Ebu batalkan kunjungan ke Luwuk. Bisa dibayangkan power Golkar di era Orba saat itu? Presiden Soeharto wajibkan menang. Wajar kalau Papa panik.

Lobi hotel di Manila hampir larut kala itu. Obrolan saya dengan Pak Rahmat berhenti. Hampir sejam kami ngobrol. “Torang ketemu nanti” katanya langsung naik lift ke kamarnya. Terlihat Beliau letih. Tapi semangat.

Pertemuan selanjutnya sekira tahun 2018 di kediaman Bupati Bone Bolango Hamim Pou sahabat juga masih kerabat saya.

Saat itu Kaka Hamim, sapaan akrabnya mengundang Pak Rahmat di kediaman Bupati Hamim untuk makan malam dan dialog dengan kader Nasdem.

Kami bercakap tak begitu lama. Keramahan. Optimisme atas visinya membangun dan memajukan Gorontalo jelas tersirat.

“Gorontalo harus maju. Daerah dan masyarakatnya. Tanah kita.” Beliau menepuk pundak saya. Nadanya bergetar. Saya ingat saat bersua di Manila Filipina, kalimat itu pun dikatakanya. “Gorontalo harus maju”.

Saya hafal persis. Tiap menyebut kalimat Gorontalo harus maju, suaranya bergetar..meenyiratkan cinta dan perjuangan tak kunjung padam thd tanah leluhur.

Bangga saya setiap mengikuti kiprah dan perjuangan Pak Rahmat. Sejak itu. Kami tak pernah bertemu lagi. Tapi pesan. Amanah alm Papa bahwa jangan pernah putus hubungan dengan anak anak Om Ebu, setidaknya sudah saya penuhi. Lewat pertemuan dengan sosok hebat itu. Saya bersyukur.

Jumat 10 Juli 2026.

Usai shalat subuh tadi, setiba saya di jakarta dari yogyakarta, saya dihubungi seorang kerabat dari keluarga besar Gobel di gorontalo. “Pak Rahmat telah meninggal dunia”Innalilahi wa inna lilaihi rojiun.

 

Terbayang masa silam di Luwuk. Di sebuah malam. saat dering telepon di rumah berbunyi. Mengabarkan Om Ebu, ayah Pak Rahmat meninggal,

Papa menangis. Dia berwudhu. Dan jalankan sholat sunnah di tepi tempat tidur di kamarnya. “Kak Ebu meninggal,” kata Papa, suara parau ke ibu saya. Saya masih remaja mendengar kesedihan itu.

Kabar wafat Pak Rahmat mengejutkan banyak orang. Sosmed ramai dengan postingan duka. Indonesia ikut kehilanganmu.

Selamat jalan Pak Rahmat Gobel. Terima kasih telah memajukan tanah Leluhur, Gorontalo. Indonesia tercinta.

Sebagai pejuang. Orang baik. Kau pun wafat di hari baik. Hari Jumat.  Insya Allah husnul khotimah.
#RahmatGobel.(***)

Komentar