oleh

Pemdes dan Warga Momalia II Jalankan Tradisi Mandi Safar

A-TIMES.ID, BOLSEL – Ritual Mandi Safar kembali digelar tahun ini di Desa Momalia II Kecamatan Posigadan, Sangadi Desa Momalia II yang diwakili oleh Kasie Pemerintahan Hartin berharap.

Momen mandi Safar ini dibarengi dengan doa-doa semoga bisa membuat virus dan penyakit hilang.

“Dengan harapan atas kehendak Allah, maka virus dan penyakit yang ditimpakan kepada manusia, dengan satu kepercayaan akan habis dengan aliran air,” ujar Hartin Panai, saat membuka ritual Mandi Safar di Desa Momalia II, Rabu (06/10/2021).

Acara dimulai dengan doa syukur bersama di Pantai kemudian dilanjutkan dengan mandi bersama lewat percikan air Pantai. Ritual ini dipercaya dapat menolak bala dan mendatangkan rejeki bagi yang melakukannya.

Hartin Panai mengatakan, mandi safar merupakan salah satu ritual untuk menolak bala. Apalagi ditengah pandemi ini sudah berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun juga perlu ada ikhtiar, seperti memakai masker, menjaga jarak dan lain sebagainya.

Berita Terkait:  Cara Warga Tomini Menjaga Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad

“Kita sudah berdoa kepada Allah, tapi sekarang apa tindakan manusia, yakni seperti tadi ikhtiar dengan mentaati anjuran pemerintahan mentaati protokol kesehatan,” ucapnya.

Terpisah, Sangadi Desa Momalia II Patris Mahanggi mengatakan, sejak dulu tradisi mandi Safar ini sudah menjadi kebiasaan dari masyarakat Desa Momalia II, dan Tujuannya adalah untuk selalu menolak bala dari segala penyakit yang ada.

“Ritual mandi safar ini adalah tradisi dan budaya yang diikuti oleh setiap masyarakat Desa Momalia II, dengan harapan dapat terhindar dari segala macam penyakit dan dijauhi dari bencana,” ucap Patris Mahanggi.

Berita Terkait:  Milad ke-55 MD KAHMI Bolsel Gelar Do'a Syukuran

Sementara itu, Imam Desa Momalia II H. Syahidun Laginta, mengatakan ritual Mandi Safar hanya di gelar di bulan Safar, dan tak ada di bulan-bulan yang lain. Menurut dia ada dua tujuan, pertama memohon kepada Allah SWT agar diberi kesehatan, umur yang panjang agar bisa beribadah kepadaNya, dan kedua menolak ‘Bala’.

“Kita tahu bersama sejak di zamannya Nabi Nuh sudah ada yang namanya bencana dan musibah, seperti Tsunami. Maka tujuan dari bulan safar ini juga sebagaimana kita semua berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari bahaya serupa,” ungkapnya

Untuk diketahui, kegiatan Mandi Syafar ini menerapkan prokes dan diikut dengan hikmat oleh masyarakat Desa Momalia II.(***)

Peliput/Editor: Hendra Pabela
Layout: Syamsudin Hasan

Komentar

Rekomendasi Berita