Pacu Pertumbuhan Investasi, Hilirisasi Sektor Perikanan dan Pertanian Harus diperluas

A—TIMES,MANADO—Dedicated Team Meeting (DTM) tahun 2026 yang digelar di aula Bank Indonesia Perwakilan Sulut Kamis (21/5/2026) dihadiri para pemangku kepentingan dipimpin wakil gubernur Sulut Victor Mailangkay SH MH kepala perwakilan BI Sulut Joko Pratikno dan lainnya Forum ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen kita bersama dalam memantapkan stabilitas dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah ini. Gubernur Sulut Yulius Selvanus pada sambutannya yang dibacakan wagub Mailangkay menegaskan Beberapa point penting . Diantaranya  RKPD   2026 ini harus menjadi kompas bagi kita semua dalam menyusun portofolio investasi daerah.Kita ingin memastikan bahwa modal yang masuk ke Sulawesi Utara mampu memperkuat daya saing SDM, mengoptimalkan hilirisasi sektor primer seperti pertanian dan hasil laut, serta mengembangkan ekosistem smart tourism yang inklusif. Ia menegaskan sebagai  tindak lanjut dari laporan capaian tersebut, ia memberikan arahan khusus berdasarkan evaluasi data realisasi investasi yang kita hadapi saat ini. Jika kita melihat pada data Realisasi Investasi Triwulan I Tahun 2026, angka yang tercatat adalah sebesar Rp 2,13 Triliun. Dari total tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi sebesar 72%  atau sekitar Rp 1,53 Triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi sebesar 28% atau Rp 593 Miliar. Secara akumulatif, realisasi ini telah menyerap sebanyak 5.070 Tenaga Kerja Indonesia. Angka ini memang menunjukkan aktivitas ekonomi, namun kita tidak boleh berpuas diri. Terkait  sebaran lokasi dari total realisasi Rp 2,13 Triliun tersebut, ia memberikan apresiasi kepada Kota Manado yang menjadi penyumbang terbesar dengan  realisasi Rp 989 Miliar (46%) untuk (PMA + PMDN), disusul Kabupaten Minahasa Utara dengan Rp 779 Miliar (36%). Namun, sepertinya ada ketimpangan yang cukup lebar dengan kabupaten/kota lainnya, baik PMA dan PMDN. Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Bitung, dan Kota Tomohon, masih berada di angka yang relative rendah dan perlu dipacu lebih kencang lagi. Saya minta Bupati dan Walikota di wilayah lainnya untuk segera melakukan evaluasi . Sejalan dengan itu, melihat perbandingan dengan target tahunan kita. Target Investasi Sulawesi Utara  tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp 12,13 Triliun. Namun, capaian Triwulan I baru menyentuh angka 18%. Ini adalah sinyal waspada. Jika kita bandingkan dengan  periode  yang sama pada tahun 2025. Saat itu investasi kita mampu mencapai 33% dari target, maka capaian saat ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini harus menjadi “Wake-Up Call” bagi kita semua, terutama bagi para Kepala Daerah. Jangan terjebak dalam rutinitas birokrasi sementara momentum investasi global dan nasional terus bergerak dinamis.” Langkah yang dilakukan yakni Monitoring dan Debottlenecking. Segala  hambatan regulasi atau konflik lahan  lintas  kabupaten/kota harus difasilitasi penyelesaiannya serta , Diversifikasi Sektor,” pungkas Wagub seraya memegeanan Kita harus mulai bergeser dari sektor tradisional menuju hilirisasi industri dan pariwisata padat karya yang memiliki nilai tambah tinggi. Terkait Hilirisasi Sektor Unggulan adalah harga mati bagi kemandirian ekonomi Sulut.  Terkait sektor Perikanan, kita harus fokus pada pengolahan Tuna dan Cakalang agar yang kita ekspor bukan lagi bahan mentah. Di sektor Pertanian, hilirisasi Kelapa dan turunannya harus diperluas. ” Terkait Pariwisata, kita butuh investasi yang berkelanjutan dan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Saya ingin setiap investor yang datang merasa yakin bahwa bahan baku dan dukungan ekosistem di Sulut sudah siap,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait:  BI Dorong Kelompok Tani Berkah Penuhi Kebutuhan Komoditas di Kotamobagu
Berita Terkait:  Indosat Ikut Andil Pastikan Konektifitas Digital Aman, saat iven TIF 

 

Komentar