Menanti Senyum Karyawan BSG atas Bonus “BERKEADILAN’

Oleh: TAUHID ARIEF

A-Times.id.Bank Sulut Gorontalo (BSG) mencatat laba kotor tahun 2025 sebesar Rp372 miliar, atau naik 24 persen dibanding laba kotor yang diraih satu tahun sebelumnya.

Berapa laba bersih (Net Profit) yang diperoleh, belum diketahui karena masih menunggu audit. Karenanya persentase pertumbuhan laba bersih juga belum bisa diketahui dengan jelas.

banner

Ada kesalahan dalam tulisan sebelumnya, karena tertulis laba bertumbuh 66 persen. Persentase ini dilihat dari pertumbuhan laba bersih tahun 2024 yang tercatat Rp224 miliar lebih dibanding laba tahun ini yang Rp372 miliar.

Padahal angka ini adalah laba sebelum pajak (gross margin). Secara apple to apple tentu tidak bisa dibandingkan. (Ini sekaligus bentuk ralat atas tulisan yang sudah menyebar kemarin).

Terlepas dari seberapa persen kenaikan laba bersihnya, karyawan BSG tentu berharap dan menunggu seberapa besar bonus yang akan diterima paskah RUPS nanti.

Biasanya bonus karyawan atau jasa produksi ini diusulkan oleh direksi dan diputuskan dalam RUPS.

Tidak ada data persis berapa persen dari laba yang disisihkan untuk jasa karyawan.

Apakah persentase setara dengan tantim yang besarnya Rp12,5 persen sebagaimana yang diputuskan dalam RUPS dua tahun belakangan (tantim atas laba BSG tahun 2023 dan 2024).

Mengacu pada laba tahun 2024 lalu, maka nilai tantim yang dikeluarkan 12,5 persen dari laba Rp224 miliar atau sebesar Rp28 miliar lebih.
Jumlah yang tergolong besar ini dibagikan ke 10 orang (5 komisaris dan lima direksi). Kalau pun dibagi rata, maka masing-masing memperoleh Rp2,8 miliar.

Berita Terkait:  Jokowi Pesan Gubernur OD Jaga Stabilitas Bahan Pokok

Namun pembagian itu tidaklah dibagi sama.. Biasanya jajaran direksi mendapatkan porsi lebih besar dibanding jajaran komisaris. Atau kalau diperinci penerimaan tantim terbesar jatuh pada direktur utama.

Sementara Komisaris Utama separuh dari nilai tantim yang diterima Dirut.
Jajaran direktur masing masing mendapat persentase relatif lebih kecil (75-80 persen) dari besaran yang diterima sang dirut.

Begitu juga untuk komisaris, ada persentase dari besaran yang diterima komut-nya .

Bonus karyawan sendiri relatif tertutup, tak dipublish. Kalau pun dilihat dari angka besaran yang diterima sudah pasti bedanya bak bumi dan langit.

Sebenarnya, bonus karyawan adalah
bentuk penghargaan atas kontribusi para karyawan terhadap pertumbuhan laba yang dicapai.
Tradisi pembagian bonus bukanlah sekadar rutinitas tahunan, tapi hal ini lebih dimaknai sebagai simbol keadilan dan pengakuan.

Laba yang dicapai, apalagi terjadi pertumbuhan bukan turun dari langit. Laba itu lahir dari kerja kolektif ribuan karyawan.

Dari teller yang berdiri seharian melayani nasabah, analis kredit yang diburu target, hingga staf operasional yang bekerja dalam tekanan kepatuhan dan risiko.

Berita Terkait:  BPK Periksa Pengelolaan Sampah, AARS Minta Camat Proaktif

Jika kontribusi mereka diabaikan, boleh jadi makna dari perolehan laba tersebut berubah dari prestasi bersama menjadi monopoli pencitraan manajemen.

Bonus dan jasa produktivitas bukanlah hadiah sukarela, apalagi belas kasihan. Ia adalah instrumen keadilan kerja. Tanpa itu, narasi “kinerja positif” terasa timpang. Manajemen dielu-elukan, sementara karyawan diminta bersabar dengan uang jasa ‘apa adanya’.

Sebagai bank milik daerah yang kerap mengusung nilai kebersamaan dan gotong royong, BSG justru berisiko mempraktikkan keberhasilan yang elitis—menguntungkan institusi atau elit, tetapi sunyi bagi pekerjanya.

Karyawan biasanya tidak menuntut berlebihan. Mereka hanya menagih konsistensi dan komitmen moral: ketika laba tumbuh, penghargaan pun semestinya ikut mengalir dan tumbuh. Jika bonus dianggap tidak memungkinkan, maka keterbukaan manajemen menjadi keharusan, bukan pilihan.
Diamnya manajemen justru menimbulkan tafsir liar. Dan dalam dunia kerja, ketidakpastian adalah racun yang perlahan mematikan motivasi.

BSG hari ini dihadapkan pada pilihan penting: menjadikan laba sebagai kebanggaan semu, atau menjadikannya basic keadilan internal.

Sebab bank yang benar-benar kuat bukan hanya yang mampu mencetak laba ratusan miliar, tetapi yang berani memastikan kesejahteraan itu dirasakan hingga ke level karyawan paling bawah. (Pemerhati ekonomi Politik Sulut)

Komentar