Oleh: Vebry Tri Haryadi, Praktisi Hukum, Mantan Jurnalis
Kita harus bicara jujur. Kebangkitan Persma 1960 memang membangkitkan harapan. Nama “Persma” bukan nama biasa di Sulawesi Utara. Ia pernah menjadi kebanggaan. Ia pernah membuat orang Manado berdiri tegak. Tapi hari ini pertanyaannya sederhana, ini benar kebangkitan sepak bola, atau hanya kebangkitan nama?
Banyak orang tersinggung ketika muncul kritik. Dibilang iri, tidak dilibatkan, tidak mendukung atau lawan politik. Padahal persoalannya bukan itu. Persoalannya adalah kejelasan. Apakah Persma 1960 benar kelanjutan dari Persma Manado yang lama? Atau ini klub baru yang memakai nama lama?
Secara aturan sepak bola, pengakuan klub ada di tangan PSSI. Klub harus punya badan hukum, lisensi, dan status yang jelas. Kalau klub lama sudah tidak aktif dan tidak lagi terdaftar, maka secara hukum ia terputus. Tidak bisa otomatis disambung hanya karena memakai nama yang sama.
Jadi mari kita jujur, Persma 1960 adalah entitas baru. Itu tidak salah. Yang salah kalau publik digiring untuk percaya seolah-olah ini kelanjutan langsung tanpa penjelasan yang terang.
Hari ini Persma 1960 bermain di Liga 4. Itu kasta paling bawah dalam sistem liga nasional. Tidak ada yang perlu malu dengan itu. Semua klub besar pun pernah mulai dari bawah. Tapi jangan juga bicara terlalu tinggi sebelum fondasi kuat.
Dari Liga 4 ke Liga 1, jalannya panjang. Harus naik tiga tingkat. Harus juara atau minimal promosi setiap musim. Harus punya uang cukup. Harus lolos verifikasi stadion dan manajemen. Itu bukan perkara pidato atau seremoni. Itu soal kerja keras dan konsistensi.
Lalu di mana letak persoalannya?
Persoalan muncul ketika kebangkitan ini terlalu dekat dengan kekuasaan. Dukungan kepala daerah memang sah. Pemerintah boleh membantu fasilitas. Tapi klub profesional tidak boleh bergantung pada figur politik. Kalau terlalu melekat pada satu orang, apa yang terjadi kalau orang itu tidak lagi berkuasa? Apakah klub tetap hidup? Atau ikut tenggelam?
Kita sudah sering melihat klub daerah yang besar saat kepala daerah mendukung penuh, lalu hilang ketika kepemimpinan berganti. Itu bukan kebangkitan. Itu ketergantungan.
Sepak bola tidak boleh jadi alat pencitraan. Sepak bola adalah milik masyarakat, bukan milik kekuasaan. Kalau klub lebih sering muncul di panggung seremoni daripada di papan klasemen, publik berhak curiga. Kalau gaungnya lebih besar di media daripada di hasil pertandingan, publik berhak bertanya.
Menghidupkan nama besar “Persma” berarti memikul tanggung jawab besar. Jangan hanya jual nostalgia. Jangan hanya pakai memori lama untuk membangun simpati. Bangun prestasi baru. Tunjukkan manajemen yang terbuka. Jelaskan dari mana pendanaan datang. Tunjukkan pembinaan usia muda berjalan.
Kalau dalam dua atau tiga musim ke depan tidak ada kemajuan nyata, maka publik akan menyimpulkan sendiri: ini bukan fondasi profesional, ini hanya panggung simbolik.
Sulawesi Utara tidak butuh euforia sesaat. Kita butuh klub yang benar-benar kuat, mandiri, dan tahan lama. Kita butuh sistem, bukan sekadar semangat.
Pertanyaannya sekarang bukan siapa mendukung atau siapa mengkritik. Pertanyaannya sederhana, apakah Persma 1960 dibangun untuk bertahan lama, atau hanya untuk terlihat hebat hari ini?
Jawabannya akan terlihat bukan dari baliho, bukan dari pidato, tapi dari hasil di lapangan dan cara klub ini dikelola. Karena pada akhirnya, nama besar tidak cukup. Yang menentukan adalah kerja nyata dan bukan karena panggung simbolik kekuasaan hari ini. (***)





























Komentar