Anomali Tahun 2024 dan Laba BSG 2025

Oleh: TAUHID ARIEF

A-TIMES.id- Kinerja Bank Sulut Gorontalo (BSG) pada tahun 2025 membukukan pertumbuhan laba yang signifikan.

Dari nilai laba Rp224 miliar pada tahun 2024 melonjak menjadi Rp372 miliar di tahun 2025, atau tumbuh 66 persen.

banner

Pencapaian ini tergolong luar biasa, mengingat rata-rata industri perbankan nasional hanya mencatat pertumbuhan satu digit (di bawah 10 persen).

Hasil ini memberi sedikit gambaran berjalannya fungsi pengawasan ketat dan operasional yang baik di jajaran komisaris dan direksi.

Namun di balik kegemilangan tahun 2025, terselip catatan kritis mengenai inefisiensi pada tahun buku 2024.
Seharusnya, performa impresif ini sudah bisa diraih lebih awal jika tidak terjadi “anomali” beban operasional.

Pada tahun 2024, BSG mengalami pertumbuhan laba negatif (minus), turun dari kisaran Rp250 miliar (2023) menjadi Rp224 miliar (2024).
Setidaknya ada dua pos utama yang menjadi penyebab membengkaknya biaya operasional hingga menghabiskan lebih dari Rp263 miliar. Yakni, pos beban bunga dan pos beban tenaga kerja.

Beban bunga terjadi kenaikan sebesar Rp208,76 miliar (25,06%) dibanding tahun sebelumnya, menyebabkan pendapatan bunga bersih ikut tergerus tajam.

Hal ini memicu pertanyaan apakah terdapat kesalahan manajerial? atau adanya faktor eksternal lainnya.

Berita Terkait:  Timsel KPU Sulut Layani Pendaftaran Komisioner Lewat SIAKBA

Di sisi lain adalah pos beban tenaga Kerja. terdapat kenaikan signifikan sebesar Rp54 miliar dibanding tahun (2023). Kenaikan ini dinilai janggal. Dan, inilah yang berubah jadi drakula penghisap, sebagai faktor utama penyebab laba bertumbuh minus 10% dibanding kinerja BSG tahun 2023.

Akibatnya, rasio BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) membengkak dari 82,57% menjadi 85,2% pada 2024.

Sebenarnya jika kedua pos ini diawasi lebih ketat sejak awal, BSG diprediksi mampu meraup laba di atas Rp300 miliar sejak tahun lalu. 2024).

Titik balik terjadi ketika jajaran pengangkatan Komisaris baru yang mulai memperketat pengawasan terhadap biaya operasional untuk kepentingan fisiensi.

Hasilnya, di sepanjang tahun 2025 rasio BOPO berhasil ditekan kembali ke kisaran 81%. Dalam artian, bila persentase BOPO lebih ditekan, maka otomatis laba menggelembung.

Selain pertumbuhan laba, Dirut BSG, Revino Pepah dalam paparannya di hadapan jajarannya pada pertemuan awal januari, mengungkapkan keberhasilan lainnya sepanjang 2025, adalah pertumbuhan aset 12,5% menjadi Rp23,75 triliun,
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 21,6% menjadi Rp18,25 triliun.

Berita Terkait:  Jalan, Jembatan dan 15 Rumah Warga Amurang Tenggelam Dihantam Abrasi

Tapi di balik itu, meski laba dan aset tumbuh, BSG menghadapi tantangan pada sektor kualitas kredit. NPL Gross naik dari 2,41% menjadi 2,97%. Apakah kenaikan ini merupakan dampak dari beralihnya Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Pemkot Gorontalo ke bank lain. Sebagaimana diketahui, pengalihan RKUD ini ikut menghambat sistem penagihan kewajiban debitur (PNS Pemkot) yang sebelumnya dilakukan melalui mekanisme autodebet.

Publik kini menanti publish atau rilis laporan keuangan resmi tahun buku 2025 secara lengkap untuk melihat dan mencermatinya secara utuh.

Pertanyaan besarnya adalah apakah lonjakan laba 66% ini dominan dihasilkan dari pengetatan efisiensi yang lose di tahun sebelumnya? ataukah pertumbuhan laba ini terjadi dari hasil keseimbangan strategi efisiensi dan produktivitas.
Sebab bila hanya karena efisiensi semata dari anomali tahun 2024, maka jajaran komisaris dan direksi perlu ekstra kerja keras untuk pertumbuhan laba di tahun berikutnya (2026). Di sinilah tantangan sesungguhnya bagi komisaris dan direksi untuk dievaluasi (Pemerhati Ekonomi -Politiik)

Komentar