Diskusi Kolaborasi Kahmi – ICMI Sulut Gali Lebih Dalam Paradigma Islam Inklusive

A-Times.id,Manado- Dialog kolaborasi dua organisasi intelektual Korps Alumni HMI (Kahmi) Sulut dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sulut menggali lebih dalam tema Paradigma Islam Inklusive Wujudkan Civil Society di Sulut yang Majemuk.

Sejumlah tokoh Kahmi dan ICMI hadir di diskusi di kawasan wisata kuliner Malalayang Beach Walk (MBW) 2, Minggu (01/03/2026).

Koordinator Presidium Kahmi Sulut Suardi Hamzah, Korwil ICMI Sulut Prof Dr Ir Sangkertadi, Stafsus gubernur Sulut/sekum kahmi Sulut Mazhabullah Ali, Sekum ICMI Sulut Hamzah Latif, Bendum Kahmi Sulut Tommy Gobel, Ketua Juleha Sulut Dr Kalo Tahirun.

Kemudian Hamdi Paputungan, Pejabat PTA Harsono Hamzah, dosen Unima Jaelani Mansur, pengacara Rahmat Adam, Ketua BKPRMI Sulut Suryanto Muarif MH, wartawan senior Hairil Paputungan, Kahmi Manado Fikri Darise MKn, Komisioner KPU Manado Asrul Anom, Forhati Sulut, Perempuan ICMI Sulut dan alumni muda HMI dan pemuda ICMI Sulut.

Ketua ICMI Sulut Prof Dr Ir Sangkertadi
Korpres KAHMI Sulut Suardi Hamzah

Sebelum diskusi yang dipandu dosen IAIN Manado Dr Feiby Ismail ME, Ketua Korwil ICMI Sulut Prof Dr Ir Sangkertadi DEA mengucapkan apresiasi diskusi yang dirangkai buka puasa bersama. Kata Sangkertadi, dialog keislaman sangat penting dilakukan ICMI dan Kahmi Sulut.

“Ini baru pertama kali dua elemen ICMI dan Kahmi menggelar diskusi bersama. Agenda seperti ini terus didorong supaya ikatan emosional makin kuat,”katanya.

Koordinator Presidium (Korpres) Kahmi Sulut Suardi Hamzah menambahkan kolaborasi dalam bentuk diskusi menjadi pemantik masalah kontektual.

Berita Terkait:  Banjir Tengelamkan Desa Motongkad, 3 Rumah Hanyut

Kahmi kata Suardi sudah lama akrab dengan tema Islam inklusive serta civil society. Bahwa umat Islam harus menjabarkan Islam sebagai rahmat untuk semua.

“Kita mengangkat tema ini karena masih relevan dengan tuntutan dan kebutuhan umat kita di Sulut,”katanya.
Pemantik pertama Buya Anwar Sandiah mengurai islam sangat erat dengan perilaku yang inklusive. Paradigma islam yang inklusive kata lain dari tawadhu. Menjunjung tinggi peradaban manusia. Senantiasa memandang perbedaan adalah rahmat Allah.

“Sejatinya paradigma islam inklusive adalah menjunjung tinggi adab dari pada Ilmu. Inklusivitas telah diajarkan orang tua kami sedari kecil. Bergaul dengan komunitas agama dan suku lain, China di kampung,”ujarnya.

Sementara Ridwan Ngilu memotret islam inklusive dari aspek gerakan perubahan sosial. Paradigma ini harus ditanamkan ke Gen Z, apalagi problem kita adalah kemiskinan struktural dan personal. “Gerakan perubahan tujuannya mengentaskan kemiskinan secara struktural,”katanya.

Sementara Dr Muksin yang mewakili unsur pimpinan NU Sulut mengurai paradigma Islam inklusive di tengah kemajemukan masyarakat Sulut, adalah sunnatullah. DI NU tema ini mirip islam moderasi. Kata doktor asal Kotamobagu ada tiga pilar ekonomi, kebangsaan dan keilmuan. Ini mencakup tiga Pilar yg akan wujudkan civil Society dan menjaga kemajemukan di Sulur.

Berita Terkait:  Boby: Kuota THL Jangan Dipangkas Besar-besaran

“Frame yg disampaikan pak ketua (Ulyas Taha) nuansa inklusive Islam ada kaitan tiga pandangan moderat. Tawasuth (Tengah-tengah) Pandangan ini menempatkan NU pada posisi yang lurus dan adil.

Dua asamuh (Toleran). NU menjunjung tinggi persaudaraan manusia (ukhuwah basyariyyah), kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah), dan keislaman (ukhuwah Islamiyyah). Tiga Tawazun (Seimbang).

NU bertindak seimbang dalam penggunaan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) dan dalil aqli (akal dan konteks sosial).
Penanggap Hamzah Latief, tidak kalah kritis. Sekum ICMI Sulut Hamzah Latief menafsirkan bahwa Islam sudah inklusive.

Yang harus diingatkan adalah inklusivitas islam harus diapresiasi ideologi keagamaan yang lain.
Kemudian Harsono Hamzah dari ICMI Sulut memberi tanggapan tentang islam inklusive sangat erat dengan kemajemukan di Sulut.

Penanya dari perempuan ICMI Sulut mengingatkan paradigma Islam Inklusive harus diinternarlisasi dalam sifat individual.

Hampir satu jam diskusi, buka puasa diakhiri kuliah tujuh menit oleh Sekretaris Syarikat Islam Ust Suryanto Muarif MH. Dia menyentil soal dua hati yang harus dihilangkan dari diri manusia. Yaitu hati yang mati (qalbun mayyit) dan hati yang sakit atau qalbun maridh

“Dua hati ini harus dikeluarkan karena akan menjadi penghalang bagi kita untuk tawadhu atau penerima perbedaan,”katanya.(sal)

Komentar