APBN untuk Situasi Terburuk yang Mungkin Dihadapi

Oleh: Andi Rahmat

(Waketum KADIN Indonesia Bid. Pertahanan dan Pendiri “ AR Strategic Research And Advisory)

A-Times.id, KALAU kita mengikuti secara seksama berbagai diskusi, opini dan laporan-laporan perkembangan Perang Amerika Serikat- Israel Versus Iran, hal umum yang mungkin jadi kesimpulan kita adalah Ketidak-pastian ( Uncertainty). Lebih spesifik lagi, ketidakpastian ekonomi dunia dan juga domestik yang kian hari kian meningkat seiring dengan peningkatan ekskalasi perang di Timur-Tengah .

Perang yang pada mulanya dianggap akan berlangsung cepat, surgikal dan determinan, semakin hari semakin tidak mudah diperkirakan ujungnya. Prof. Robert A. Pane dari Universitas Chicago, menyebutnya sebagai “ jebakan ekskalasi “( Escalation Trap ).

Lebih lanjut, teori “ jebakan ekskalasi” yang dikembangkan oleh Prof. Robert Pane, yang juga selama berpuluh tahun diajarkannya terutama di lingkungan militer Amerika Serikat, menjelaskan bahwa suatu perang sangat jarang berjalan sesuai rencana.

Apa yang mulanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa berlangsung cepat,presisi dan bisa dikontrol dan dapat mengubah musuh untuk merubah perilakunya atau menyerah.

Pada kenyataannya, sepanjang sejarah peperangan modern yang diamati oleh Prof. Pane, secara gradual terus melebar, makin melibatkan banyak aktor, dan pada akhirnya meningkatkan resiko diluar dari perkiraan yang direncanakan. Kasus ini terutama sekali terjadi pada penggunaan masif kekuatan udara dalam menjalankan misi peperangan.

Dalam penjelasan yang lebih lanjut, menurut teori ini, suatu operasi pertempuran yang kurang berhasil dalam memaksa musuh untuk meyerah membuat pengambil kebijakan untuk meningkatkan ekskalasi penggunaan kekuatan untuk memaksa pihak musuh untuk segera “menyerah”.

Peningkatan ekskalasi diambil bukan karena pada pembacaan terhadap kelemahan strategis tapi lebih karena anggapan bahwa ekskalasi lebih besar diperlukan untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Pola ini kelihatannya nampak jelas sedang terjadi dalam Perang AS- Israel versus Iran.

Peningkatan ekskalasi Perang tersebut, nampaknya terus terjadi dan kian lama kian menyeret aktor-aktor lain yang pada dasarnya tidak terlibat justru makin terdampak dan terpapar resiko. Tidak hanya negara-negara yang berada di kawasan peperangan, tapi juga melebar kepada negara-negara yang secara geografis sangat jauh dari wilayah konflik.

Salah satu yang paling menonjol adalah dampak resiko ekonomi dunia yang mengarah pada ketidakpastian. Bagaimana tidak, Perang ini telah menyentuh sisi paling vital dan strategis dalam aorta ekonomi global.

Ekskalasi terakhir menunjukkan makin meluasnya peperangan ini tidak saja terbatas pada fasilitas militer kedua-belah pihak, tapi juga telah masuk kedalam rantai pasok sumber energi Global. Serangan pihak AS- Israel kepada fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg, Fasilitas Gas Fars Iran yang merupakan fasilitas terbesar dunia yang memasok 20 % kebutuhan gas dunia dibalas oleh Iran dengan membatasi arus lalu-lintas tanker minyak bumi di Selat Hormuz, Serangan terhadap Failitas LNG Qatar, yang juga terbesar di Dunia, serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di Arab Saudi, Kuwait, UEA dan Bahrain.

Kesemuanya itu oleh banyak pengamat yang kredibel menandakan masuknya ekonomi dunia dalam fase kritis dengan tingkat resiko ekonomi yang tidak pasti. Yang makin dipertajam oleh ketidak pastian akan kapan dan bagaimana konflik ini akan berakhir.

Mari kita lihat apa yang sedang terjadi dan tengah dialami dunia akibat perang yang makin tidak berujung ini.

20 % pasokan minyak bumi yang melewati selat Hormuz telah terhambat.lalu lintas Laut yang melintasi selat Hormuz turun hingga 95%. Negara-negara di kawasan telah menghentikan sebagian besar aktivitas drilling-nya disebabkan fasilitas penampungan minyak mereka sudah penuh. Yang berarti bahwa produksi minyak bumi dalam jumlah signifikan telah terhenti. Arab Saudi sebagai pemasok minyak utama dunia terpaksa memindahkan aktivitas angkut minyaknya ke laut merah. Yang berakibat pada peningkatan biaya transportasi. Dan itupun baru-baru ini telah pula di Serang oleh Iran sebagai aksi balas terhadap serangan atas fasilitas Fars.

Berita Terkait:  Wawali RS Optimis Jokowi Datang, Ekonomi Manado Cerah

Dalam penghitungan Bloomberg, setiap gangguan yang berkibat pada pengurangan 1% saja dari pasokan minyak bumi uang dibutuhkan dunia, akan meningkatkan harga sebesar US 4 Dollar per barrel. Jika selat Hormuz benar- benar tidak lagi bisa dilalui, maka resiko peningkatan harga minyak bisa meningkat hingga US 80 Dollar per barrel dari harga sebelum perang. Itu baru yang berasal dari kawasan Teluk. Ditambahkan resiko apabila Arab Saudi yang memasok tidak kurang dari 10-15% kebutuhan minyak bumi, dipaksa atau terpaksa mengurangi pasokannya.

Demikian juga dengan kebutuhan Gas Bumi dunia. Iran adalah negara ke-2 dunia setelah Rusia dengan cadangan gas alam terbukti di dunia,sekitar 17,8% dari total cadangan gas dunia. Sebagai catatan, Fasilitas Gas Fars milik Iran yang diserang Israel adalah fasilitas gas alam terbesar di dunia. Uniknya fasilitas ini dikelola bersama dengan Qatar. Adapun Qatar adalah pemasok LNG terbesar ke-2 di dunia setelah AS, dengan menyediakan 20% kebutuhan LNG global. Penghentian produksi di Qatar telah meningkatkan harga LNG dunia sebesar 50% di Eropa dan 39% di Asia. Dan terus akan meningkat seiring dengan peningkatan ekskalasi konflik.

Yang juga perlu diwaspadai adalah efeknya terhadap kebutuhan bahan baku fertilizer dunia. 20% pasokan Fosfat dunia berasal dari negara-negara kawasan teluk dan 40% pasokan Urea dunia juga berasal dari kawasan ini. penurunan drastis pasokan ini akan berdampak besar terhadap kebutuhan pertanian dunia. Termasuk Indonesia sebagai negeri Agraris.

Industri petrokimia global juga terus mengalami tekanan. Industri ini sangat esensial bagi mata rantai pasok perekonomian global. Dan sangat bergantung pada ketersediaan pasokan Minyak Bumi dan Gas Bumi yang berasal dari kawasan teluk dan Saudi Arabia.

Bukan itu saja, Qatar adalah pemasok 30 % Helium dan Sulfur yang sangat dibutuhkan oleh Industri Microchip dunia. Seperti yang sudah dipahami, perkembangan industri berbasis teknologi terutama dalam memproduksi Microchip yang menjadi tulang punggung mata rantai pasok Industri berbasis teknologi sangat bergantung pada ketersediaan pada dua bahan esensial ini.

Tahun ini saja, perusahaan “ Bigtechs” dunia berencana untuk berinvestasi sebesar US 650 Juta Dollar di sektor AI yang sangat membutuhkan pasokan besar semikonduktor. Belum lagi industri komunikasi seperti “ Self-Phone” yang juga membutuhkan akselerasi pasokan dan kualitas Semikonduktor. Yang kesemuanya itu sangat bergantung pada rantai pasok Helium dan Silikon yang berasal dari Timur Tengah. Gangguan terhadap mata rantai pasok ini akan berdampak serius terhadap aktivitas Industri yang kian esensial dan strategis ini.

Lantas apa hubungannya dengan Ekonomi Nasional kita, terutama yang berhubungan dengan judul tulisan ini.

Kesemua deskripsi diatas tentu akan sangat mempengaruhi perekonomian nasional kita. Dan bahkan sejumlah diantaranya akan berdampak langsung terhadap kapasitas dan daya tahan fiskal kita.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. “ Ketidakpastian” adalah keadaan yang tengah kita hadapi. Eksternalitas ketidakpastian ini menyebabkan banyak asumsi fundamental dalam perkiraan ekonomi dan kebijakan ekonomi yang telah dan akan kita ambil mesti ditimbang ulang. Termasuk APBN kita.

Berita Terkait:  Program Perdana MBG Running di Kabupaten Bolsel, Bupati Iskandar Tinjau Langsung Di Sekolah

Apa yang terjadi saat ini saja dampaknya akan terus berlanjut hingga ke bulan-bulan mendatang. Belum lagi jika ekskalasinya makin tidak terukur. Asumsi di dalam APBN kita sudah tidak lagi bisa dipergunakan untuk mengantisipasi perkembangan ini. Dengan ekskalasi per hari ini berikut dampaknya( pada saat kami menulis tulisan ini), harga berbagai hal yang telah kami singgung sebelumnya tidak akan serta merata kembali ke harga asumtif kita. Gangguan rantai pasok akibat perang ini, tidak akan pulih dalam bulan-bulan mendatang. Itu sudah menjadi laten dan cenderung spiral.

Dengan demikian, Pemerintah dan juga DPR, mau tidak mau mesti mengkonsiderasikan situasi ini dalam merestruktur-ulang postur APBN. APBN berikut perangkat Regulasi yang menjadi dasarnya perlu segera ditata-ulang untuk menghadapi resiko eminen ini.

Pada pokoknya. Penataan Ulang ini tidak hanya menyasar asumsi yang mendasari postur APBN, tapi juga kemampuan pembiayaan berikut sumber pembiayaannya juga mesti di lihat ulang. Termasuk apabila pada akhirnya otoritas memutuskan untuk melihat ulang kebijakan pembiayaan defisit nasional.

Apalagi banyak sekali program prioritas pemerintah yang akan terdampak langsung dengan keadaan ini. Pilihan kebijakan untuk terus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi tentu akan mendorong pembiayaan defisit yang melebar demi mencegah kebijakan “ austerity” yang mengerem pertumbuhan. Tanpa perang di Timur Tengah saja, ruang fiskal kita sudah mengalami tekanan.

Belum lagi ancaman Inflasi yang bisa saja berakibat pada terciptanya keadaan “ Stagflasi” di dalam perekonomian, yang bisa berlarut-larut. Suatu keadaan persisten dimana Inflasi tinggi dengan tingkat pertumbuhan yang rendah yang berakibat pada meningkatnya angka pengangguran.

Saat ini, fundamental ekonomi kita relatif solid dan potensial dalam menghadapi berbagai “ shock” perekonomian. Secara umum, angka- angka statistik sejak akhir tahun hingga bulan Februari kemarin menunjukkan tanda-tanda perekonomian sedang mengalami akselerasi pertumbuhan yang cukup baik.

Angka PMI per- Februari 2026 ( Purchasing Manager Index) kita tumbuh solid dan tertinggi dalam 23 bulan terakhir, sebesar 53,8%. Per Januari 2026 Dana Pihak Ketiga di perbankan tumbuh 10,8% mencapai Rp. 9,489 Trilliun. Pertumbuhan kredit Per Februari 2026 mencapai 9,37%. Realisasi Investasi hingga Februari sebesar Rp 298,5 Trilliun, atau 13,7% dari target pemerintah sebesar Rp2.175 Trilliun. Angka-angka ini cukup koheren untuk menunjukkan akselerasi positif perekonomian.

Sisi optimistik ini tidak berarti kita lengah dan tidak mempersiapkan kebijakan mitigasi terhadap potensi down-turn perekonomian akibat faktor eksternal seperti perang di timur tengah. Perang itu sendiri telah menjadi faktor utama yang sangat determinan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan juga Indonesia.

Perang yang makin berlarut di Timur-Tengah ini akan mewujud dalam bentuk meningkatnya variabel Inflasi Importasi ( Imported Inflation) yang tidak hanya berdampak pada kinerja perekonomian nasional secara luas, tapi juga secara spesifik berdampak pada postur dan kinerja APBN.

Semoga saja perang di Timur Tengah segera berakhir. Sehingga para pengambil kebijakan ekonomi nasional lebih memiliki kepastian dalam mengelola dampaknya yang hingga bulan-bulan kedepan masih akan terus terasa. Wallahualam. Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1447 H. mohon maaf lahir dan batin.(*)

Komentar