Karya Jurnalistik : Lily Suriani Paputungan
A—TIMES,MANADO–Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, fondasi ekonomi Sulawesi Utara menunjukkan daya tahan yang kuat. Sinergi antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci menjaga pertumbuhan tetap tinggi sekaligus mengendalikan inflasi dan memperkuat ketahanan pangan strategis.Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Sulut terkini, ekonomi Sulut pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,42 % (yoy), melampaui rata-rata nasional. Capaian ini ditopang sektor utama pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pariwisata.Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2026 berada pada kisaran 5,4 – 6,3 %. Ke depan, fokus bukan hanya menjaga angka pertumbuhan, tetapi memperkuat kualitas pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi komoditas unggulan, konektivitas perdagangan, dan ketahanan pangan.Potensi pertumbuhan baru Sulut terbuka lebar dari hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa, investasi pariwisata KEK Likupang dan KEK Bitung, serta penguatan konektivitas perdagangan. Posisi strategis Sulut dengan keberadaan Pelabuhan Bitung sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan Asia Timur dan Pasifik menjadi modal besar mendorong ekspor dan investasi.Meski ekonomi tumbuh solid, pengendalian inflasi tetap menjadi pekerjaan rumah bersama. Hingga Agustus 2026, inflasi kumulatif Sulut tercatat 3,68 %(ytd), berada di atas sasaran nasional 2,5 %plus minus 1 persen.Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto menegaskan, penguatan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci agar inflasi kembali ke dalam sasaran.Pengendalian inflasi dilakukan secara kolektif melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan strategi 4K: Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.Komoditas pangan penyumbang inflasi tertinggi di Sulut masih didominasi kelompok volatile food, yakni Beras, Bawang merah (Barito), Cabai/Rica, Tomat, Padi dan Jagung Komoditas rica bahkan tercatat memberi andil 0,33 % terhadap inflasi. Dari sisi supply, BI melakukan intervensi langsung untuk meningkatkan produktivitas petani melalui Program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA). Program ini meliputi pelatihan, pendampingan, hingga sekolah lapang yang berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Provinsi, praktisi dan pegiat pertanian.Pada Triwulan I 2025, kredit UMKM tumbuh 2,39% yoy, menguat dari 1,03% yoy triwulan sebelumnya. Pangsa kredit UMKM di Sulut mencapai 26,58% dari total kredit terbanyak di Manado, Kotamobagu, Bitung, dan sektor perdagangan serta pertanian.Puncaknya terlihat di Karya Kreatif Indonesia KKI 2026 yakni Kain Pinawetengan Minahasa: penjualan Rp110,3 juta, naik 5 kali lipat dari 2025, Kopi Arabica Tomohon Elmonts Coffee: mendapat perhatian World Barista Champion.,Vanila Sulut tembus ekspor. Sampel dikirim ke SAF Synergy Malaysia, 20 kg vanilla beans senilai USD2.500 ke Korea Selatan, dan 24 pcs vanilla paste/powder ke Jepang. Kopi Robusta Gunung Ambang Kotamobagu: mulai dilirik pasar Jepang. “Ini bukti UMKM Sulut punya daya saing. Tugas kita sekarang memperkuat kapasitas, pembiayaan, inovasi, dan digitalisasi,” kata kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto. Selain itu, BI juga mendorong peningkatan stok pangan melalui penyediaan sarana prasarana penunjang produksi langsung kepada kelompok tani untuk mendorong modernisasi pertanian dan efisiensi biaya produksi.Penguatan ekonomi kerakyatan juga dilakukan lewat pembinaan UMKM. Hingga 2025, UMKM binaan BI Sulut tercatat 144 pelaku usaha yang didominasi produk olahan makanan, dan terus didorong naik kelas lewat akses pembiayaan, kelembagaan dan perluasan pasar.Dari sisi intermediasi, perbankan Sulut tetap positif. Hingga Juli 2026, kredit tumbuh 3,08 persen yoy dan DPK naik 8,08 persen yoy, dengan NPL terjaga 2,77 persen.Sementara Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI pada Triwulan III 2026 menunjukkan ekspansi aktivitas usaha. Sinergi inilah yang diharapkan membuat pertumbuhan ekonomi Sulut tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif, berdaya saing dan berkelanjutan.(Lily Suriani Paputungan)




























Komentar