A–TIMES,BITUNG–Ancaman perdagangan orang serta kekerasan terhadap anak dan perempuan nyata ada di sekitar kita. Pemerintah Kota Bitung menegaskan tidak akan tinggal diam dan memilih untuk berdiri di garda terdepan melakukan pencegahan.Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, SE, menekankan komitmen itu harus dimulai dari lingkungan terkecil hingga pintu gerbang utama kota, yakni Pelabuhan Bitung. Sebagai jalur perlintasan laut yang vital dan ramai, Pelabuhan Bitung harus menjadi benteng utama. Pengawasan harus diperketat, mulai dari pengamanan jalur keberangkatan hingga pemantauan ketat terhadap potensi tindak pidana perdagangan orang atau TPPO.”Kita tidak boleh tutup mata. Masalah ini harus diselesaikan bersama,” ujar Hengky.Menurutnya, Pemkot Bitung berkomitmen penuh untuk mencegah, melindungi dan mendampingi para korban kekerasan dan perdagangan orang.Namun, ia menegaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi kuat dari seluruh stakeholder. Mulai dari aparat penegak hukum, otoritas kepelabuhanan, hingga pengawasan berbasis komunitas di tingkat RT dan RW.Kolaborasi juga akan diperkuat dengan mitra LSM, salah satunya Yayasan Pembelaan Putra Putri Indonesia (YPPPI) yang selama ini fokus pada perlindungan perempuan dan anak.”Jangan tunggu ada korban baru kita sibuk bergerak. Pintu gerbang kota kita perketat, ruang gerak pelaku kita tutup,” tegasnya.Ia memastikan, perempuan dan anak-anak di Kota Bitung wajib terlindungi.(*)
Pemkot Bitung Perketat Pelabuhan, Cegah TPPO dan Kekerasan Anak-Perempuan




























Komentar