Di ruang kerja yang sederhana, ia lebih suka bicara soal manusia daripada gelar. Tapi pekan lalu, Universiti Geomatika Malaysia menyematkan satu nama baru di depannya: Adjunct Professor in Neuroscience. Ia menerimanya dengan senyum dan syukur. “Profesor itu sebutan. Biasa saja. Yang membuat saya diam sebentar adalah kalimat ini: _for his outstanding contribution and lifelong services to neuroscience_,” ujarnya. Kalimat itu, katanya, seperti cermin. Memantulkan perjalanan panjang yang tidak cepat, tidak mudah, tapi ia jalani dengan tekun. Taufik mulai serius dengan otak saat buku pertamanya terbit, 1995. Waktu itu, kata “neurosains” masih asing di banyak ruang kuliah Indonesia. Dokter biasanya bicara otak sebagai organ. Ia ingin lebih jauh. “Bagi saya, otak bukan cuma sel dan sinaps. Ia pintu untuk mengerti cara kita berpikir, merasa, bersikap, bahkan cara kita membangun peradaban,” katanya. Bekal dasarnya ia dapat dari UGM Jogja: Neuroanatomi dan Neurosains. Dari fondasi itu, ia jalan ke mana-mana. Menyambungkan otak dengan pendidikan, hukum, kepemimpinan, spiritualitas, dan perilaku sehari-hari. Selama 35 tahun, ia tidak pernah mau menaruh neurosains di satu kotak. “Ilmu ini jembatan,” katanya. Jembatan antara biologi dan perilaku. Antara kedokteran dan pendidikan. Antara hukum dan tanggung jawab. Antara spiritualitas dan makna hidup. Karena itu karyanya selalu mampir di persimpangan: otak dan integritas, otak dan hukum, otak dan pengembangan manusia. Ketika “Brain Decade” di Amerika membuka wacana global, ia merasa keyakinan lamanya pelan-pelan menemukan rumah. Bagi Taufik, penghargaan ini bukan garis finish. Ia menyebutnya amanah. “Artinya harus konsisten, jujur secara ilmiah, berani lintas batas, dan terus melayani ilmu serta manusia,” tuturnya. Mantan Aktifis HMI Cabang Manado ini berterima kasih kepada Universiti Geomatika Malaysia. Harapannya sederhana: semoga neurosains ke depan bukan hanya menjelaskan cara kerja otak. Tapi juga menolong orang memahami dirinya, memperbaiki perilakunya, menguatkan integritasnya, dan menemukan makna hidup yang utuh.35 tahun bersama otak. Dan menurutnya, baru separuh jalan.(lily)
































Komentar