A –TIMES,MANADO — Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memaparkan perkembangan ekonomi global dan nasional terkini dalam Bincang Media Senja di Manado, Selasa(22/7/2026) Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto menyebut perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian. Tiga faktor utama yang mempengaruhi yakni konflik geopolitik di Timur Tengah, laju inflasi dunia yang belum melandai, dan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang bertahan di level tinggi. “Konflik di Timur Tengah berdampak pada harga komoditas energi, terutama minyak mentah. Kondisi itu ikut mendorong inflasi global,” ujar Joko. Ia menambahkan, suku bunga The Fed yang tinggi membuat dolar AS menguat. Dampaknya, investor global cenderung menempatkan dana pada aset safe haven. “Aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih terbatas,” katanya. Di tengah kondisi global tersebut, Joko menilai perekonomian Indonesia triwulan I 2026 tetap tumbuh. Pertumbuhan didorong empat faktor: konsumsi rumah tangga yang stabil, percepatan realisasi belanja pemerintah, investasi yang masuk, dan kinerja ekspor yang positif. Untuk indikator harga, inflasi nasional tercatat berada di rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Dari sisi moneter dan sistem keuangan, likuiditas perbankan dinilai memadai. Penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,8 persen secara tahunan hingga Mei 2026. Transaksi ekonomi dan keuangan digital juga meningkat 18,2 persen pada periode yang sama. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2026 tercatat sebesar USD 144,9 miliar. Menurut Joko, jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Cadangan devisa pada level itu mampu menopang ketahanan sektor eksternal,” ujarnya. Menyesuaikan dinamika global, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter. Rapat Dewan Gubernur BI pada 19–20 Juni 2026 memutuskan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Dengan kenaikan tersebut, total peningkatan BI-Rate sepanjang 2026 mencapai 100 basis poin. Joko menambahkan, kebijakan lain yang dijalankan meliputi intervensi di pasar valas, penguatan operasi moneter melalui SRBI, serta pendalaman pasar uang lewat Local Currency Transaction (LCT) dengan beberapa negara mitra.(*)





























Komentar